Klub Membaca The Interseksi Foundation
Sudiarto
Bagi John Roosa, banyak tanda tanya menggantung hampir pada setiap aspek Gerakan 30 September (G-30-S), sehingga gerakan ini tampak sebagai kemelut yang kusut tanpa kepaduan. Mengapa gerakan yang mengumumkan pada 1 Oktober 1965 menamai dirinya dengan tanggal hari sebelumnya? Mengapa gerakan yang menyatakan diri sebagai murni internal Angkatan Darat juga memutuskan mendemisionerkan kabinet Sukarno dan membentuk pemerintahan baru atas dasar Òdewan revolusiÓ? Mengapa gerakan yang menyatakan diri sebagai usaha mencegah kup terhadap Presiden Sukarno tidak tegas menyatakan bahwa Sukarno akan tetap menjadi presiden dalam pemerintahan baru tersebut? Mengapa gerakan yang ingin mengganti pemerintahan tidak menggelar pasukan untuk menguasai ibukota sesuai prosedur klasik dalam kudeta? Mengapa gerakan ini tidak menculik Mayor Jenderal Suharto atau bersiap untuk menghadapi pasukan-pasukan yang ada di bawah komandonya?
Empat pendekatan dijelaskan oleh John Roosa untuk menguraikan keganjilan G-30-S. Menurut penjelasan militer Indonesia dan memoar Suharto, G-30-S merupakan siasat PKI Òsebagai sebuah institusiÓ untuk merebut kekuasaan negara, sehingga menjadi dalih untuk penangkapan ribuan anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) disertai pembantaian massal. Dua ilmuwan dari Cornell University, Anderson dan McVey dalam analisis pada Januari 1966 menyebut G-30-S sebagai putsch internal Angkatan Darat (AD) yang dilakukan oleh perwira-perwira bawahan sebagai kritik terhadap gaya hidup bermewah-mewah dan orientasi pro-Barat para jenderal di Staf Umum AD (SUAD). Sedang Harold Crouch dalam bukunya The Army and Politics in Indonesia (1978) menulis bahwa inisiatif awal G-30-S memang timbul di tubuh AD, tapi PKI sangat terlibat meskipun hanya sebagai pemain kedua. Terakhir, W.F. Wertheim dalam artikel pendek pada tahun 1970 mengungkapkan kedekatan antara Suharto dan dua orang pimpinan G-30-S, yaitu Letnan Kolonel Untung dan Kolonel Latief, dan mengajukan Sjam Kamaruzzaman, ketua Biro Chusus PKI, sebagai orang militer yang ditugasi menyusup ke PKI. Tudingan bahwa Sukarno sendiri otak di balik G-30-S sebagaimana dikemukakan oleh Dake, Holtzappel, dan Fic diabaikan karena bukti-bukti yang tidak andal, informasi yang buruk dan lebih merupakan angan-angan penulisnya sendiri.
Judul buku : Manjali dan Cakrabirawa
Pengarang : Ayu Utami
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta
Tahun : 2010
Halaman : 252 + x
Penyusun : Mayjend.TNI.dr.Soedjono
Penerbit : Rosda Jayaputra Jakarta
Tahun : 1984
Hendrawan
‘’Pancasila itulah yang memberikan kekuatan kepada bangsa kita untuk tetap tegak sampai sekarang, Pancasila itu pula yang akan mampu memberi bimbingan agar kita selamat pada cita – cita kemerdekaan kita ialah terwujudnya masyarakat yang maju, sejahtera dan berkeadilan sosial’’ [Jendral TNI H.M Soeharto]
Melihat potret sejarah Indonesia dalam percaturan politik pascakemerdekaan mulai dari tahun 1945 sampai sekitar 1965-an, kondisi politik Indonesia masih sangat labil, ini ditandai dengan banyaknya golongan politik yang masing-masing yang ingin mendominasi peran sentral di negara ini. Jika dihubungkan dengan tahun kelahiran saya [1977], sayang sekali saya tidak dapat menyaksikan dari momen - momen sejarah itu diatas, namun saya masih bisa mendapatkan fakta dan data sejarah secara otentik yang salah satunya membaca buku ‘’Monumen Pancasila Sakti’’.
Buku ini menguraikan segala sesuatu mengenai monumen tersebut dan latar belakang sejarahnya yaitu peristiwa pemberontakan gerakan 30 September 1965 [G-30-S/PK, para gembong serta oknum-oknum PKI dalam melakukan persiapan hingga kekuatan serta eksistensi organisasi PKI terkikis habis dan juga diuraikan pula arti dan isi ‘’SASMITA LOKA PAHLAWAN REVOLUSI AHMAD YANI’’ serta dicantumkan pula fakta - fakta serta dokumen - dokumen otentik dari persidangan mahkamah militer luar biasa. Pancasila sebagai ideologi Negara Republik Indonesia dan juga pada hakekatnya merupakan suatu pikiran dan dasar falsafah hidup bangsa Indonesia. Saya melihat dan merasakan dewasa ini, isi Pancasila mulai kurang diamalkan oleh bangsa ini, jauh bila dibandingkan pada masa Orde lama dan orde baru yang gaungnya dan pengamalanya sangat terasa. Contoh kecilnya, pada masa Orba di setiap pendidikan sekolah menengah pertama [SMP] dan sekolah menengah atas [SMA], setiap siswa baru diberikan penataran P4 [Pedoman Penghayatan dan Pengalaman Pancasila], anehnya sekarang ini di setiap pendidikan sekolah menengah tidak diberikan lagi.
Harapan bangsa ini kedepanya semoga Negara ini dapat dijalankan dengan benar dan para pemimpin Negara ini bertindak tegas, adil dan beradab dengan berpedoman Pancasila dan UUD 1945 sesuai cita – cita dari para pahlawan demi kemajuan generasi mendatang.
‘’Bangsa yang maju adalah bangsa yang menghargai jasa para Pahlawanya’’ [ir.Soekarno]
Judul Buku : Kamp Pengasingan Moncongloe
Pengarang : Taufik
Penerbit : Desantara
Tahun : 2009
Halaman : 278 + xxii hlm.
Judul : Kembang-kembang Genjer
Penulis : Fransisca Ria Susanti
Tebal : xxiv + 169 Halaman
Penerbit : Lembaga Sastra Pembebasan, Jakarta (2006)
Judul Buku : Romantika Orang Buangan
Pengarang : Sobron Aidit
Tahun : 2006
Indriani Widiastuti
Selama ini kita seringkali mengeluh, mengapa Indonesia begini, pemimpinnya begitu, angkutan umumnya jelek, udaranya kotor dan sebagainya. Namun ketika kita berada jauh dari kampung halaman, rasa rindu baru akan terasa dan mendadak kita lupa akan hal-hal jeleknya. Banyak pelajar Indonesia yang menuntut ilmu di luar negeri membekali dirinya dengan bumbu siap saji atau dendeng sapi, jaga-jaga jika rindu dengan masakan rumah.
Sobron Aidit adalah sastrawan Indonesia yang mendapat kesempatan untuk belajar di Provinsi Jiangxi, Tiongkok Selatan pada tahun 1960-an. Ia tidak dapat pulang ke tanah air karena peristiwa G30S, ia adalah adik DN Aidit (Sekretaris Jenderal Partai Komunis Indonesia). Karena hubungan saudara itulah ia dianggap "tidak bersih". Di kumpulan cerpen memoar ini, Sobron menuangkan kisahnya ke dalam empat tema besar yang mewakili tahapan hidupnya di Tiongkok. Mulai dari menjadi penghuni Hotel Persahabatan (Friendship Hotel), belajar berladang, memiliki tim tembak burung, istrinya menderita penyakit Lupus dan akhirnya meninggal hingga menjadi pemolish (yang menghaluskan bahasa) di Radio Beijing.
Meskipun bulan September masih beberapa bulan lagi, namun di bulan April ini klab membaca Interseksi "Baca-Baca" mengangkat tema Peristiwa 1965. Tema ini dipilih sebagai bagian dari tema besar rangkaian program Interseksi tahun ini: Pengembangan demokrasi dan diversitas kultural. Peristiwa G30S dan Partai Komunis Indonesia seperti setan dalam kepala banyak orang di Indonesia. Hal ini tampak pada hasil survei nasional yang dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia untuk melihat penerimaan publik terhadap ideologi Islamisme pada dua tingkat (tindakan dan sikap). Ternyata, hasil survei menyatakan bahwa ada 38% responden menyatakan bahwa tidak ada kelompok sosial-politik yang dibenci. Namun sisanya, di antara kelompok sosial yang paling tidak disukai pilihan sebesar 32% jatuh pada komunis, 11% pada Yahudi dan 7% Kristen. Stigmatisasi terhadap mantan anggota PKI dan keluarganya tidak pernah hilang di masyarakat. Mungkin negara sudah tidak lagi mencantumkan E.T. (eks tapol) di KTP, namun "gelar" semacam "PKI Pembantai Umat Islam", "Komunis Tuhannya Babi" atau "Gerwani Agen Pornografi" akan terus dikumandangkan. (catatan dari penulis: Slogan-slogan ini tidak dibuat-buat, tapi saya mengutipnya dari orasi dan poster demo di depan Goethe Haus, Jakarta saat acara Indonesia & The World in 1959-1965: A Critical Decade bulan Januari lalu)
"Belief X cancels belief Y. Leaving zero belief. Religion can't last much longer. It had developed in deserts and villages. Here it's an immigrant thing. It can't survive the cosmopolitan city."
Judul : Kerudung Santet Gandrung
Penulis : Hasnan Singodimayan
Tebal : xvii + 214 Halaman
Penerbit : Desantara, Jakarta (2003)
Dian Anggraini
Membaca buku karya Hasnan ini kita akan disuguhi sebuah plot yang datar namun melompat-lompat dalam alur maju-mundur yang mudah sekali ditebak. Plot yang sederhana, dan relatif tidak banyak kejutan yang berarti seperti layaknya novel pada umumnya. Meski begitu, novel karya Hasnan Singodimayan ini sarat akan berbagai kritik sosial. Boleh jadi ia merefleksikan pergumulan batin dan sosial sang penulis dengan akar tempatnya berasal, Banyuwangi, serta perjumpaan (atau benturan) dengan konstruk eksternal. Benturan pertama adalah organisasi-birokrasi pemerintah (negara), kedua adalah nalar agama (Islam) yang menjadi angan-angan sosial dari masyarakat sebagai arus utama. Kedua hal ini membuat masyarakat Desa Candisari, yang berasal dari suku Osing (artinya adalah orang-orang bebas, independen, seperti leluhur mereka dari Blambangan, bebas dari dominasi eksternal Majapahit) mengalami represi secara halus sehingga posisinya termarjinalkan. Hasnan merangkai dan menjalin benturan-benturan itu dalam babak satu demi satu, menjadi sebuah alur cerita yang sarat dengan sebuah perenungan tentang jatidiri, keautentikan dan klaim kebenaran dalam memandang realitas dan keberagaman. Novel ini adalah sebuah ikhtiar untuk menempatkan budaya sebagai kearifan lokal.