Baca-Baca

Klub Membaca The Interseksi Foundation

  • Home
  • The Interseksi Foundation
  • Menembus Tirai Asap : Tak Ada Dendam, Kami Hanya Ingin Merdeka Seratus Persen!

    • 31 May 2011
    • 0 Responses
    •  views
    • Edit
    • Delete
    • Tags
    • Autopost

    Cover-eks-tapol-1
    Moh. Nurul Shobah

    Tahun 1965 merupakan salah satu tahun paling bersejarah di Indonesia. Pada masa itu, bisa dikatakan sebagai titik balik karena terjadi transisi kepemimpinan dari Orde Lama yang kemudian melahirkan Orde Baru. Selama Orde Baru berkuasa, belum pudar dalam ingatan kita, tepat pada peringatan hari Kesaktian Pancasila, kita selalu disuguhi film dokumenter Pemberontakan G 30 S/PKI 1965. Bagi masyarakat awam, sejarah (yang masih diragukan keabsahannya) yang diperlihatkan melalui film dokumenter tersebut sudah melekat di benak meraka. Tidak mudah memang untuk meluruskan sejarah yang selama bertahun-tahun telah mengendap di hati masyarakat Indonesia.

    Setelah era Orde Baru berakhir, tidak sedikit sejarawan yang mulai merasa perlu untuk menyampaikan kembali kepada masyarakat mengenai hal-hal yang masih ganjil dan apa sebenaranya yang melatarbelakangi lahirnya tragedi G 30 S/PKI 1965 serta siapa tokoh yang paling berperan besar dan menikmati hasil tragedi berdarah tersebut?

    Pada awal reformasi, gencar tuntutan untuk merevisi dan mengevaluasi kembali sejarah Indonesia modern. Para sejarawan menganggap bahwa penilaian atas sejarah Orde Baru tidak akan dapat dilaksanakan sebelum memahami secara mendalam warisan kejadian-kejadian tahun 1965. Namun sejatinya dampak dari peristiwa 1965 tidak dapat dimengerti hanya dengan menghitung berapa banyaknya orang yang dibunuh, diculik, mendokumentasikan peranan negara atau mengkritik sejarah resmi. Hal yang diperlukan adalah pelacakan sejarah itu sendiri. Dalam hal ini Indonesia tidak dapat selamanya mengabaikan catatan dari berbagai individu yang terlibat, menyaksikan, ataupun selamat dari tragedi besar ini. "Menembus Tirai Asap" menyajikan kesaksian sebelas tahanan politik 1965 dari berbagai latar belakang yang menjadi survivor dari masa traumatis tersebut.

    Read the rest of this post »

  • MENGURAI KESEMRAWUTAN FAKTA-FAKTA TENTANG G-30-S

    • 31 May 2011
    • 0 Responses
    •  views
    • Edit
    • Delete
    • Tags
    • Autopost

    Dalihpembunuhanmassal

    Judul        : Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto
    Penulis     : John Roosa
    Penerbit    : Institut Sejarah Sosial Indonesia dan Hasta Mitra
    Cetakan    : 1, 2008
    Halaman   : 392 + xxiv

     

    Sudiarto


    Bagi John Roosa, banyak tanda tanya menggantung hampir pada setiap aspek Gerakan 30 September (G-30-S), sehingga gerakan ini tampak sebagai kemelut yang kusut tanpa kepaduan. Mengapa gerakan yang mengumumkan pada 1 Oktober 1965 menamai dirinya dengan tanggal hari sebelumnya? Mengapa gerakan yang menyatakan diri sebagai murni internal Angkatan Darat juga memutuskan mendemisionerkan kabinet Sukarno dan membentuk pemerintahan baru atas dasar Òdewan revolusiÓ? Mengapa gerakan yang menyatakan diri sebagai usaha mencegah kup terhadap Presiden Sukarno tidak tegas menyatakan bahwa Sukarno akan tetap menjadi presiden dalam pemerintahan baru tersebut? Mengapa gerakan yang ingin mengganti pemerintahan tidak menggelar pasukan untuk menguasai ibukota sesuai prosedur klasik dalam kudeta? Mengapa gerakan ini tidak menculik Mayor Jenderal Suharto atau bersiap untuk menghadapi pasukan-pasukan yang ada di bawah komandonya?
     
    Empat pendekatan dijelaskan oleh John Roosa untuk menguraikan keganjilan G-30-S. Menurut penjelasan militer Indonesia dan memoar Suharto, G-30-S merupakan siasat PKI Òsebagai sebuah institusiÓ untuk merebut kekuasaan negara, sehingga menjadi dalih untuk penangkapan ribuan anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) disertai pembantaian massal. Dua ilmuwan dari Cornell University, Anderson dan McVey dalam analisis pada Januari 1966 menyebut G-30-S sebagai putsch internal Angkatan Darat (AD) yang dilakukan oleh perwira-perwira bawahan sebagai kritik terhadap gaya hidup bermewah-mewah dan orientasi pro-Barat para jenderal di Staf Umum AD (SUAD). Sedang Harold Crouch dalam bukunya The Army and Politics in Indonesia (1978) menulis bahwa inisiatif awal G-30-S memang timbul di tubuh AD, tapi PKI sangat terlibat meskipun hanya sebagai pemain kedua. Terakhir, W.F. Wertheim dalam artikel pendek pada tahun 1970 mengungkapkan kedekatan antara Suharto dan dua orang pimpinan G-30-S, yaitu Letnan Kolonel Untung dan Kolonel Latief, dan mengajukan Sjam Kamaruzzaman, ketua Biro Chusus PKI, sebagai orang militer yang ditugasi menyusup ke PKI. Tudingan bahwa Sukarno sendiri otak di balik G-30-S sebagaimana dikemukakan oleh Dake, Holtzappel, dan Fic diabaikan karena bukti-bukti yang tidak andal, informasi yang buruk dan lebih merupakan angan-angan penulisnya sendiri.

    Read the rest of this post »

  • Manjali dan Cakrabirawa

    • 13 May 2011
    • 0 Responses
    •  views
    • Edit
    • Delete
    • Tags
    • Autopost

    Manjalicakrabirawa

    Judul buku   :  Manjali dan Cakrabirawa
    Pengarang   :  Ayu Utami
    Penerbit      :  Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta
    Tahun         :  2010
    Halaman     :  252 + x

    Kristina Viri

    Marja Manjali sungguh menikmati perjalananya bersama sahabatnya (yang
    juga sahabat kekasihnya) Parang Jati dan seorang arkeolog asal Prancis
    Jacques. Bukan hanya karena diam-diam ia mencintai Parang Jati dan
    memanfaatkan kebersamaan mereka sepeninggal kekasihnya, Yuda, yang
    sedang menjadi partner latihan panjat tebing TNI, tetapi juga karena
    perjalanan ini menyiratkan banyak teka-teki yang harus dipecahkan oleh
    Marja Manjali. Seorang gadis yang tumbuh diantara silaunya kota
    Jakarta, mencoba menemukan kembali jejak-jejak sejarah yang telah
    tertinggal berpuluh-puluh tahun silam. Sejarah yang belum pernah ia
    tahu dan sungguh tak pernah ia sangka, bukan hanya karena ia
    dibesarkan di Jakarta, tetapi juga karena pendidikan sejarah yang
    mendoktrinnya berbeda dengan apa yang ia temukan dalam perjalanan ini.

    Read the rest of this post »

  • Pancasila

    • 12 May 2011
    • 0 Responses
    •  views
    • Edit
    • Delete
    • Tags
    • Autopost

    Cover_pancasila_sakti
    Judul buku : MONUMEN PANCASILA SAKTI

    Penyusun  : Mayjend.TNI.dr.Soedjono

    Penerbit     : Rosda Jayaputra Jakarta

    Tahun        : 1984

     

    Hendrawan

    ‘’Pancasila itulah yang memberikan kekuatan kepada bangsa kita untuk tetap tegak sampai sekarang, Pancasila itu pula yang akan mampu memberi bimbingan agar kita selamat pada cita – cita kemerdekaan kita ialah terwujudnya masyarakat yang maju, sejahtera dan berkeadilan sosial’’ [Jendral TNI H.M Soeharto]

    Melihat potret sejarah Indonesia dalam percaturan politik pascakemerdekaan mulai dari tahun 1945 sampai sekitar 1965-an, kondisi politik Indonesia masih sangat labil, ini ditandai dengan banyaknya golongan politik yang masing-masing yang ingin mendominasi peran sentral di negara ini. Jika dihubungkan dengan tahun kelahiran saya [1977], sayang sekali saya tidak dapat menyaksikan dari momen - momen sejarah itu diatas, namun saya masih bisa mendapatkan fakta dan data sejarah secara otentik yang salah satunya membaca buku ‘’Monumen Pancasila Sakti’’.

    Buku ini menguraikan segala sesuatu mengenai monumen tersebut dan latar belakang sejarahnya yaitu peristiwa pemberontakan gerakan 30 September 1965 [G-30-S/PK, para gembong serta oknum-oknum PKI dalam melakukan persiapan hingga kekuatan serta eksistensi organisasi PKI terkikis habis dan juga diuraikan pula arti dan isi ‘’SASMITA LOKA PAHLAWAN REVOLUSI AHMAD YANI’’ serta dicantumkan pula fakta - fakta serta dokumen - dokumen otentik dari persidangan mahkamah militer luar biasa. Pancasila sebagai ideologi Negara Republik Indonesia dan juga pada hakekatnya merupakan suatu pikiran dan dasar falsafah hidup bangsa Indonesia. Saya melihat dan merasakan dewasa ini, isi Pancasila mulai kurang diamalkan oleh bangsa ini, jauh bila dibandingkan pada masa Orde lama dan orde baru yang gaungnya dan pengamalanya sangat terasa. Contoh kecilnya, pada masa Orba di setiap pendidikan sekolah menengah pertama [SMP] dan sekolah menengah atas [SMA], setiap siswa baru diberikan penataran P4 [Pedoman Penghayatan dan Pengalaman Pancasila], anehnya sekarang ini di setiap pendidikan sekolah menengah tidak diberikan lagi.

    Harapan bangsa ini kedepanya semoga Negara ini dapat dijalankan dengan benar dan para pemimpin Negara ini bertindak tegas, adil dan beradab dengan berpedoman Pancasila dan UUD 1945 sesuai cita – cita dari para pahlawan demi kemajuan generasi mendatang.

    ‘’Bangsa yang maju adalah bangsa yang menghargai jasa para Pahlawanya’’ [ir.Soekarno]

  • Kamp Pengasingan MONCONGLOE Sebuah Tempat untuk Komunitas Tapol

    • 12 May 2011
    • 0 Responses
    •  views
    • Edit
    • Delete
    • Tags
    • Autopost

    Moncongloe

    Judul Buku : Kamp Pengasingan Moncongloe
    Pengarang : Taufik
    Penerbit : Desantara
    Tahun : 2009
    Halaman : 278 + xxii hlm.


    Dwi Priyanti

    Buku ini menceritakan sejarah Komunitas Tapol Moncongloe. Sejarah
    Komunitas ini dimulai dari masa pemerintahan Orde Baru melalui Kodam
    XIV Hassanudin dengan membuka Kampung Pengasingan Tapol di Moncongloe
    pada tahun 1969. Secara bertahap para tapol dipindahkan dari berbagai
    penjara yang ada di Sulawesi Selatan menuju kamp ini. Mereka menempati
    5 barak dengan berbagai fasilitas. Pada umumnya para tapol itu berasal
    dari anggota dan simpatisan PKI, aktivis Lekra, Barisan Tani Indonesia
    (BTI), Serikat Buruh Tambang Indonesia (SBTI), Gerakan Wanita
    Indonesia (Gerwani) dan Pemuda Rakyat dari berbagai kalangan seperti
    wartawan dan pegawai negeri sipil.

    Kamp Pengasingan Moncongloe (1969-1977) merupakan tempat pelaksanaan
    proyek Instalasi Rehabilitasi (Inrehab) Moncongloe yang berada dibawah
    tanggung jawab Teperda, yang terdiri dari atas Corps Polisi Militer
    dan Kompi Pengawal Kodam XIV Hasanuddin sebagai pelaksana teknis
    pengawasan atas tapol. Tugas pokok Teperda adalah melakukan pembinaan
    terhadap yang dianggap sesat secara ideologi oleh pemerintah Orde
    Baru. Tugas dan kewajiban para tapol di Kamp Pengasingan adalah
    membuka lahan perkebunan yang kelak dikuasai dan dimiliki oleh petugas
    Inrehab (militer).

    Read the rest of this post »

  • KEMBANG GENJER: POLITIK REPRESI PEREMPUAN GERWANI

    • 11 May 2011
    • 0 Responses
    •  views
    • Edit
    • Delete
    • Tags
    • Autopost

    Kembang-kembanggenjer

    Judul :  Kembang-kembang Genjer
    Penulis :  Fransisca Ria Susanti
    Tebal :  xxiv + 169 Halaman
    Penerbit :  Lembaga Sastra Pembebasan, Jakarta (2006)


    Dian Anggraini


    Jika mendengar kata GERWANI maka yang terbayang adalah kesadisan
    sekelompok perempuan dalam skenario pembunuhan 6 jenderal dan satu
    perwira TNI AD dalam film “G 30 S/PKI" yang setiap tanggal 30
    September disajikan di televisi era orde baru. Dalam adegan tersbut
    dilukiskan, bahwa pada dinihari 1 Oktober 1965 telah terjadi ritual
    “pesta harum bunga”, yakni berupa tarian mesum anggota Gerwani dan
    Pemuda Rakyat yang telanjang, sembari hanya mengenakan untaian kembang
    genjer sebagai pakaian ritual yang sadis, dimana mereka menyiksa dan
    menyileti kemaluan para jenderal, disertai iringan nyanyian lagu
    Genjer-Genjer.

    Lagu Genjer-Genjer sudah dikenal di Banyuwangi sebelum tahun 1965
    sebagai lagu rakyat terutama lagu para petani. Genjer merupakan salah
    satu tananaman air yang tumbuh di tanah basah dan berair seperti di
    rawa becek atau tegalan. Tahun 1963 lagu itu sudah sering diputar
    melalui siaran RRI dan TVRI. Diaransemen oleh M. Arief yang waktu
    bekerja di TVRI Jakarta, piringan hitam Genjer-Genjer kemudian
    memasuki pasaran, dinyanyikan oleh Bing Slamet dengan lirik berbahasa
    jawa. Salah satu syair yang berbunyi “esuk-esuk pating keleler”
    (pagi-pagi berhamburan terkapar), ulangan dari baris yang sama “neng
    kedhokan pating keleler” (di lahan berhamburan) menimbulkan
    kontroversi setelah terjadi peristiwa 1965 dikarenakan ada tuduhan
    indikasi penculikan dan pembunuhan para jenderal telah direncanakan
    jauh hari melalui sebuah gerakan yang massal dan sistematis.

    Read the rest of this post »

  • Hidup Tidak Cukup Nasi dan Roti Saja, Kemerdekaan Juga

    • 11 May 2011
    • 0 Responses
    •  views
    • Edit
    • Delete
    • Tags
    • Autopost

    Cover_romantika_orang_buangan

    Judul Buku : Romantika Orang Buangan

    Pengarang : Sobron Aidit

    Tahun : 2006

     

    Indriani Widiastuti

    Selama ini kita seringkali mengeluh, mengapa Indonesia begini, pemimpinnya begitu, angkutan umumnya jelek, udaranya kotor dan sebagainya. Namun ketika kita berada jauh dari kampung halaman, rasa rindu baru akan terasa dan mendadak kita lupa akan hal-hal jeleknya. Banyak pelajar Indonesia yang menuntut ilmu di luar negeri membekali dirinya dengan bumbu siap saji atau dendeng sapi, jaga-jaga jika rindu dengan masakan rumah.

    Sobron Aidit adalah sastrawan Indonesia yang mendapat kesempatan untuk belajar di Provinsi Jiangxi, Tiongkok Selatan pada tahun 1960-an. Ia tidak dapat pulang ke tanah air karena peristiwa G30S, ia adalah adik DN Aidit (Sekretaris Jenderal Partai Komunis Indonesia). Karena hubungan saudara itulah ia dianggap "tidak bersih". Di kumpulan cerpen memoar ini, Sobron menuangkan kisahnya ke dalam empat tema besar yang mewakili tahapan hidupnya di Tiongkok. Mulai dari menjadi penghuni Hotel Persahabatan (Friendship Hotel), belajar berladang, memiliki tim tembak burung, istrinya menderita penyakit Lupus dan akhirnya meninggal hingga menjadi pemolish (yang menghaluskan bahasa) di Radio Beijing.

    Read the rest of this post »

  • Baca-Baca April: Peristiwa 1965

    • 1 May 2011
    • 0 Responses
    •  views
    • Edit
    • Delete
    • Tags
    • Autopost

    Meskipun bulan September masih beberapa bulan lagi, namun di bulan April ini klab membaca Interseksi "Baca-Baca" mengangkat tema Peristiwa 1965. Tema ini dipilih sebagai bagian dari tema besar rangkaian program Interseksi tahun ini: Pengembangan demokrasi dan diversitas kultural. Peristiwa G30S dan Partai Komunis Indonesia seperti setan dalam kepala banyak orang di Indonesia. Hal ini tampak pada hasil survei nasional yang dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia untuk melihat penerimaan publik terhadap ideologi Islamisme pada dua tingkat (tindakan dan sikap). Ternyata, hasil survei menyatakan bahwa ada 38% responden menyatakan bahwa tidak ada kelompok sosial-politik yang dibenci. Namun sisanya, di antara kelompok sosial yang paling tidak disukai pilihan sebesar 32% jatuh pada komunis, 11% pada Yahudi dan 7% Kristen. Stigmatisasi terhadap mantan anggota PKI dan keluarganya tidak pernah hilang di masyarakat. Mungkin negara sudah tidak lagi mencantumkan E.T. (eks tapol) di KTP, namun "gelar" semacam "PKI Pembantai Umat Islam", "Komunis Tuhannya Babi" atau "Gerwani Agen Pornografi" akan terus dikumandangkan. (catatan dari penulis: Slogan-slogan ini tidak dibuat-buat, tapi saya mengutipnya dari orasi dan poster demo di depan Goethe Haus, Jakarta saat acara Indonesia & The World in 1959-1965: A Critical Decade bulan Januari lalu)

    (download)
    Click here to download:
    Baca-Baca_April_Peristiwa_1965.zip (241 KB)

    Read the rest of this post »

  • Perjalanan Menuju Sebuah Keyakinan

    • 11 Apr 2011
    • 0 Responses
    •  views
    • Edit
    • Delete
    • Tags
    • Autopost

    Roadfromdamascus

    Indriani Widiastuti

    Identitas diri adalah permasalahan utama bagi sebagian besar generasi kedua imigran asal Timur Tengah di Inggris. Permasalahannya tidak lagi karena penyebutan "Paki" oleh kaum rasis di Inggris untuk imigran Pakistan, yang marak pada era akhir 60-an. Namun sekarang sifatnya lebih personal, ke arah agama atau kepercayaan. Novel The Road from Damascus berlatar tempat di London tahun 2001 dengan tokoh utama bernama Sami Traifi, pria keturunan Syria yang lahir dan besar di Inggris. Ia diceritakan sebagai mahasiswa program doktoral di bidang sastra Arab, dengan spesialisasi sajak-sajak Qabbani. Semuanya terlihat sangat sejalan: sastra Arab, keturunan Syria dan keluarga muslim. Namun ternyata hal inilah yang selalu diingkari Sami. Ia selalu berada dalam bayang-bayang ayahnya, Mustafa, seorang intelektual sekuler. Mustafa menolak ritual agama Islam dalam bentuk apapun, termasuk melarang istrinya shalat dan mengenakan jilbab. Dengan alasan yang sama, Sami tidak lagi berhubungan dengan ibunya. 

    Berharap akan menemukan jawaban atas pencarian identitasnya, Sami pergi ke Damaskus untuk mengunjungi kerabatnya. Di sana ia justru mendapat fakta-fakta baru yang mengejutkan, yang selama ini selalu disembunyikan oleh keluarganya. Pamannya diculik selama bertahun-tahun oleh Mukhabarat (badan intelijen Irak), karena ia dicurigai tergabung dalam Muslim Brother (Al-Ikhwan Al-Muslimun), padahal semasa kuliah pamannya hanya didaftarkan oleh temannya dan tidak pernah terlibat langsung dalam organisasi itu. Karena "numpang nama" itulah, Mukhabarat mendatangi rumahnya.  Sami kecewa terhadap pilihan pamannya ("What did he want with broken Islamists?"; hlm. 9). Ia teringat cerita ayahnya tentang peristiwa pembunuhan massal di Hama, ketika Muslim Brother menghabisi orang-orang dari Partai Ba'ath & Alawite. Ia sulit untuk mengerti mengapa orang harus begitu membela apa yang ia yakini. 

    "Belief X cancels belief Y. Leaving zero belief. Religion can't last much longer. It had developed in deserts and villages. Here it's an immigrant thing. It can't survive the cosmopolitan city."
     

    Read the rest of this post »

  • KERUDUNG GANDRUNG: SEBUAH PENGHAMPIRAN ATAS POLITIK TUBUH PEREMPUAN

    • 11 Apr 2011
    • 0 Responses
    •  views
    • Edit
    • Delete
    • Tags
    • Autopost

    Kerudung_santet_gandrung

    Judul :  Kerudung Santet Gandrung

    Penulis : Hasnan Singodimayan

    Tebal : xvii + 214 Halaman

    Penerbit : Desantara, Jakarta (2003)

     

    Dian Anggraini

    Membaca buku karya Hasnan ini kita akan disuguhi sebuah plot yang datar namun melompat-lompat dalam alur maju-mundur yang mudah sekali ditebak. Plot yang sederhana, dan relatif tidak banyak kejutan yang berarti seperti layaknya novel pada umumnya. Meski begitu, novel karya Hasnan Singodimayan ini sarat akan berbagai kritik sosial. Boleh jadi ia merefleksikan pergumulan batin dan sosial sang penulis dengan akar tempatnya berasal, Banyuwangi, serta perjumpaan (atau benturan) dengan konstruk eksternal. Benturan pertama adalah organisasi-birokrasi pemerintah (negara), kedua adalah nalar agama (Islam) yang menjadi angan-angan sosial dari masyarakat sebagai arus utama. Kedua hal ini membuat masyarakat Desa Candisari, yang berasal dari suku Osing (artinya adalah orang-orang bebas, independen, seperti leluhur mereka dari Blambangan, bebas dari dominasi eksternal Majapahit) mengalami represi secara halus sehingga posisinya termarjinalkan. Hasnan merangkai dan menjalin benturan-benturan itu dalam babak satu demi satu, menjadi sebuah alur cerita yang sarat dengan sebuah perenungan tentang jatidiri, keautentikan dan klaim kebenaran dalam memandang realitas dan keberagaman. Novel ini adalah sebuah ikhtiar untuk menempatkan budaya sebagai kearifan lokal.

    Read the rest of this post »

  • « Previous 1 2 3 Next »
  • About


    3562 Views
  • Archive

    • 2011 (41)
      • April (13)
      • April (7)
      • March (21)

    Get Updates

    Subscribe via RSS